Jejak Perempuan Muhammadiyah di Balik Sang Saka Merah Putih

Daftar Isi
Fatmawati: Ketika Benang, Iman, dan Nasionalisme Menjadi Simbol Kemerdekaan
Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Dosen dan Direktur Pusat Studi Pancasila dan Konstitusi UIN Kendari) 


Siarmu.id - Ada kisah kemerdekaan Indonesia yang terlalu sering diceritakan dari podium-podium sejarah dengan suara para lelaki. Nama Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Jenderal Soedirman, Ki Hajar Dewantara, dan sederet tokoh laki-laki lainnya memenuhi ingatan kolektif kita.

Tetapi di balik kibarnya Sang Saka Merah Putih pada 17 Agustus 1945, ada tangan seorang perempuan yang bekerja dalam sunyi.

Namanya *Fatmawati*.

Ia lahir dengan nama *Fatimah* , di Bengkulu, 5 Februari 1923. Ia berasal dari keluarga Muhammadiyah. Ayahnya, Hasan Din, merupakan tokoh Muhammadiyah di Bengkulu, sementara ibunya, Siti Chadijah, aktif dalam ‘Aisyiyah. Sejak remaja, Fatmawati telah terlibat dalam lingkungan Muhammadiyah dan Nasyiatul ‘Aisyiyah. 

Dan dari lingkungan itulah terbentuk seorang perempuan yang kelak tidak hanya dikenal sebagai istri Soekarno atau Ibu Negara pertama, tetapi sebagai *perempuan yang menjahit salah satu simbol terpenting bangsa Indonesia: Sang Saka Merah Putih*.

*Bendera yang Dijahit dengan Kesadaran Sejarah*

Bayangkan sebuah ruang sederhana.

Bukan gedung megah. Bukan ruang istana. Bukan bengkel industri dengan mesin modern.

Hanya seorang perempuan dengan mesin jahit tangan.

Fatmawati menjahit kain merah dan putih yang kemudian menjadi bendera yang dikibarkan dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sumber-sumber sejarah mencatat bendera itu dijahit dengan mesin jahit tangan di kediamannya di Pegangsaan. 

Di situlah sejarah sering kali bekerja dengan cara yang tidak spektakuler.

Kemerdekaan memang diproklamasikan melalui kata-kata:

*“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.”*

Tetapi kemerdekaan juga membutuhkan tangan-tangan yang bekerja dalam kesunyian.

Ada yang mengangkat senjata.
Ada yang menyusun strategi.
Ada yang menulis gagasan.
Ada yang berpidato.

Dan ada perempuan yang *menjahit bendera*.

Benang yang melewati kain itu seakan menjadi metafora: menyatukan dua warna menjadi satu identitas—merah dan putih, keberanian dan kesucian, perjuangan dan pengorbanan.

Karena itu, Sang Saka tidak hanya memiliki dimensi simbolik.

Ia memiliki *dimensi manusiawi*.

Di balik kain itu ada keringat, ketekunan, kesabaran, dan tangan seorang perempuan.

*Fatmawati: Perempuan yang Tumbuh dari Rahim Muhammadiyah*

Kisah Fatmawati tidak dapat dilepaskan dari lingkungan keluarganya.

Ayahnya, Hasan Din, dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah di Bengkulu. Ia bahkan memilih meninggalkan pekerjaan di perusahaan Belanda daripada menghentikan aktivitasnya di Muhammadiyah. Ibunya, Siti Chadijah, aktif di ‘Aisyiyah. Dari kedua orang tuanya inilah Fatmawati mengenal tradisi Islam, pendidikan, organisasi, dan perjuangan kebangsaan. 

Sejak remaja, Fatmawati aktif dalam Nasyiatul ‘Aisyiyah. Ia juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah, termasuk membaca Al-Qur'an dalam berbagai pertemuan. Bahkan terdapat catatan bahwa ia pernah tampil membaca ayat suci Al-Qur'an dalam pembukaan Kongres Muhammadiyah di Palembang pada 1936. 

Ini penting.

Sebab kita sering memandang organisasi keagamaan hanya dari aktivitas formalnya: pengajian, sekolah, masjid, tabligh, atau amal sosial.

Padahal, *pendidikan organisasi juga dapat melahirkan kesadaran kebangsaan*.

Dalam diri Fatmawati, agama dan nasionalisme tidak tumbuh sebagai dua dunia yang saling bertentangan.

Keduanya bertemu dalam satu kesadaran:

*beragama dengan memuliakan manusia dan berbangsa dengan menjaga martabat tanah air*.

*Dari ‘Aisyiyah Menuju Ibu Bangsa*

Fatmawati adalah contoh menarik tentang bagaimana gerakan perempuan Islam dapat melahirkan figur publik yang mempunyai pengaruh jauh melampaui ruang organisasi.

‘Aisyiyah pada dasarnya tidak hanya mengajarkan perempuan menjadi pendamping keluarga. Tradisi gerakan perempuan Muhammadiyah juga membangun pendidikan, kemampuan sosial, kemandirian, dan keberanian mengambil peran di tengah masyarakat.

Fatmawati mengalami proses itu sejak muda.

Karena itu, ketika kemudian ia mendampingi Soekarno dalam periode yang penuh pergolakan, ia tidak datang sebagai perempuan yang sama sekali asing dengan dunia pergerakan.

Ia telah memiliki pengalaman sosial dan organisasi.

Ia telah mengenal nilai perjuangan.

Ia telah menyaksikan bagaimana orang tuanya mengambil risiko demi keyakinan.

Maka ketika sejarah memanggil, Fatmawati tidak hanya menjadi *istri seorang proklamator*.

Ia menjadi bagian dari sejarah itu sendiri.

Kajian sejarah tentang Fatmawati bahkan secara eksplisit melihat perjalanan hidupnya sebagai hubungan antara Muhammadiyah dan perjuangan kebangsaan: _dari Muhammadiyah untuk negara_. 

*Benang Merah dan Benang Putih*

Ada sesuatu yang menarik secara filosofis dari pekerjaan menjahit.

Menjahit berarti *menyatukan sesuatu yang terpisah*.

Dua lembar kain disatukan.

Potongan-potongan yang terpisah menjadi satu kesatuan.

Dalam konteks kebangsaan, simbol ini terasa begitu dalam.

Indonesia sendiri adalah negeri yang tersusun dari ribuan pulau, ratusan kelompok etnis, bahasa, budaya, tradisi, dan keyakinan.

Apa yang membuat semuanya menjadi Indonesia?

Bukan keseragaman.

*Tetapi persatuan dalam keberagaman*.

Fatmawati mungkin tidak sedang memikirkan teori filsafat politik ketika menggerakkan mesin jahitnya.

Tetapi tangannya sedang melakukan sesuatu yang sangat filosofis:

*menyatukan dua warna menjadi satu simbol kebangsaan*.

Merah.
Putih.
Berani.
Suci.
Perjuangan.
Ketulusan.
Keduanya tidak saling meniadakan.
Keduanya justru menjadi Indonesia.

*Perempuan dan Nasionalisme yang Tidak Bising*

Ada pelajaran penting dari Fatmawati untuk kita hari ini.

Kepahlawanan tidak selalu hadir dengan suara keras.

Tidak selalu dengan pidato.
Tidak selalu dengan senjata.
Tidak selalu dengan jabatan.

Kadang-kadang kepahlawanan hadir dalam pekerjaan yang tampak sederhana.

Menjahit.
Mengajar.
Mendidik anak.
Mengurus keluarga.
Mengorganisasi masyarakat.
Membaca Al-Qur'an.
Mendirikan sekolah.
Merawat orang yang terluka.
Menjaga api perjuangan agar tidak padam.

Di situlah kita menemukan makna penting gerakan perempuan.

*Perempuan bukan sekadar penonton sejarah. Perempuan adalah pembentuk sejarah*.

Dan Fatmawati adalah salah satu buktinya.

*Dari Rumah ke Republik*

Ada kecenderungan dalam sejarah politik untuk membedakan antara ruang domestik dan ruang publik.

Seolah-olah ruang rumah tangga tidak memiliki hubungan dengan perjalanan bangsa.

Fatmawati membantah anggapan itu.

Rumah di Pegangsaan bukan sekadar rumah tangga Soekarno-Fatmawati.

Dalam periode menjelang kemerdekaan, rumah itu menjadi salah satu ruang penting sejarah republik.

Di sana kehidupan keluarga bertemu dengan pergulatan bangsa.

Di sana seorang ibu merawat anak.

Di sana seorang perempuan menjahit bendera.

Di sana para pejuang berdiskusi.

Dan pada 17 Agustus 1945, dari kawasan itulah Sang Saka dikibarkan dalam momentum Proklamasi.

Karena itu, sejarah kemerdekaan tidak hanya lahir dari gedung-gedung resmi.

*Sejarah juga lahir dari rumah*.

Dan sering kali, rumah dijaga oleh perempuan.

*Fatmawati dan Keteguhan Prinsip*

Kepahlawanan Fatmawati juga tidak berhenti pada kisah menjahit bendera.

Dalam perjalanan hidupnya, ia pernah mengambil keputusan yang tidak mudah dalam kehidupan rumah tangganya. Ia menolak dipoligami dan kemudian berpisah dari Soekarno ketika Soekarno menikah lagi. Sumber Muhammadiyah mencatat keputusan tersebut sebagai bagian dari keteguhan prinsip Fatmawati sebagai perempuan yang dibentuk dalam lingkungan Muhammadiyah. 

Terlepas dari perdebatan mengenai kehidupan personalnya, ada satu pelajaran yang dapat dibaca:

*perempuan memiliki kehendak, prinsip, dan hak menentukan martabat dirinya*.

Ini juga menjadi bagian penting dari pendidikan perempuan Muhammadiyah: perempuan bukan makhluk pasif yang hanya menerima keputusan orang lain.

Ia adalah subjek moral.

Ia memiliki akal.

Ia memiliki kehendak.

Ia memiliki tanggung jawab.

Dan ia memiliki martabat.

*Islam Berkemajuan dan Perempuan Berkemajuan*

Dalam konteks Muhammadiyah, kisah Fatmawati menjadi relevan dengan gagasan tentang *perempuan berkemajuan*.

Perempuan berkemajuan bukan sekadar perempuan yang berpendidikan tinggi.

Ia adalah perempuan yang mampu mengintegrasikan:

*iman, ilmu, amal, kemandirian, kepedulian sosial, dan kebangsaan*.

Fatmawati tumbuh dari tradisi tersebut.

Ia tidak memisahkan identitas keislaman dengan kecintaan kepada Indonesia.

Inilah salah satu wajah penting Islam Indonesia: *religius tetapi nasionalis; taat tetapi terbuka; beriman tetapi aktif dalam kehidupan sosial*.

Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Bengkulu sendiri terus menempatkan warisan Fatmawati sebagai bagian dari sejarah gerakan perempuan dan perjuangan bangsa. 

*Merah Putih Hari Ini*

Kini, kita hidup dalam Indonesia yang jauh berbeda.

Tidak ada lagi penjajahan dalam bentuk kolonialisme klasik.

Tetapi bangsa ini menghadapi tantangan lain: korupsi, intoleransi, kekerasan, ketimpangan, politik identitas, disinformasi, polarisasi digital, dan krisis keteladanan.

Pertanyaannya:

*Apa makna Fatmawati bagi generasi sekarang?*

Jawabannya bukan sekadar mengingat siapa yang menjahit bendera.

Lebih jauh:

*Apakah kita masih mampu menjahit persatuan bangsa?*

Jika Fatmawati menjahit kain merah dan putih, generasi kita memiliki pekerjaan yang jauh lebih besar:

*menjahit kembali persaudaraan Indonesia yang terkoyak oleh kebencian*.

Media sosial tidak boleh menjadi mesin pemecah bangsa.

Perbedaan pilihan politik tidak boleh menghapus persaudaraan.

Perbedaan agama tidak boleh menjadi alasan permusuhan.

Perbedaan suku tidak boleh menjadi tembok.

Merah Putih tidak cukup dikibarkan di tiang.

*Merah Putih harus hidup di dalam hati dan perilaku kita*.

*Warisan Fatmawati: Dari Benang Menjadi Bangsa*

Fatmawati wafat pada 14 Mei 1980 dalam perjalanan pulang dari umrah dan dimakamkan di TPU Karet, Jakarta. Pada 4 November 2000, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 118/TK/2000. 

Namun gelar pahlawan bukanlah akhir dari kisah.

Justru ia menjadi awal dari pertanyaan kepada generasi berikutnya:

*Apa yang akan kita lakukan dengan warisan mereka?*

Fatmawati meninggalkan bendera.

Tetapi sesungguhnya ia meninggalkan sesuatu yang lebih besar:

 *keteladanan*.

Bahwa perempuan dapat menjadi aktor sejarah.

Bahwa agama dapat melahirkan nasionalisme yang sehat.

Bahwa pekerjaan sederhana dapat memiliki makna luar biasa.

Bahwa perjuangan tidak selalu membutuhkan panggung.

Dan bahwa bangsa dibangun bukan hanya oleh mereka yang namanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi juga oleh mereka yang bekerja dalam sunyi.

Maka setiap kali Merah Putih berkibar, barangkali kita perlu mengingat sepasang tangan perempuan yang pernah menggerakkan mesin jahitnya dalam kesunyian.

Tangan itu adalah tangan Fatmawati.

Tangan seorang perempuan Muhammadiyah.

*Tangan seorang ibu*.
*Tangan seorang pejuang. Tangan yang menjahit kain*.

Tetapi dari jahitannya, *sebuah bangsa menemukan simbol persatuannya*.

*Sebab kadang-kadang sejarah tidak lahir dari suara yang paling keras, tetapi dari tangan yang paling tekun bekerja dalam diam*.

Dan Fatmawati telah mengajarkan kepada kita:

*Jahitlah persatuan ketika bangsa mulai terkoyak*.
*Rawatlah merah ketika keberanian mulai padam*.
*Jagalah putih ketika kesucian cita-cita mulai ternoda*.
*Sebab Merah Putih bukan hanya warna bendera—ia adalah janji kita kepada Indonesia.*