Di Tengah Euforia Yudisium ITSBM Selayar, Orasi Sarjana Membuat Suasana Haru
Daftar Isi
Siarmu.id - Suasana Yudisium Sarjana (S1) Terapan dan Formal Institut Teknologi Sains dan Bisnis Muhammadiyah (ITSBM) Selayar Tahap I Tahun 2026 berlangsung meriah. Puluhan sarjana muda yang dikukuhkan tampak larut dalam kebahagiaan setelah melewati perjalanan panjang pendidikan, penelitian, hingga penyelesaian tugas akhir.
Namun, kemeriahan itu seketika berubah menjadi suasana haru ketika perwakilan sarjana menyampaikan orasi ilmiahnya. Nurul Al Faina, sarjana dari Program Studi Kewirausahaan, membawa pesan yang membuat para sarjana, dosen, pimpinan, dan undangan tertegun.
Dalam orasinya, Nurul mengawali cerita tentang perjalanan mereka sebagai mahasiswa yang datang pada masa awal pertumbuhan ITSBM Selayar.
“Kami hadir di ITSBM Selayar tanpa ada senior. Kami datang ketika semuanya belum terbentuk. Kami tumbuh ketika kampus juga sedang bertumbuh,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi para mahasiswa. Mereka tidak hanya dituntut menyelesaikan pendidikan, tetapi juga belajar beradaptasi dengan lingkungan akademik yang sedang membangun sistem, tradisi, dan budaya kampus.
Perjalanan itu, kata Nurul, akhirnya menjadi bagian penting dari cerita hidup mereka.
“Kami belajar beradaptasi, belajar bertahan, belajar menghadapi tantangan. Dan hari ini, semua cerita itu membawa kami sampai di titik ini,” katanya.
Bentakan dan Revisi yang Ternyata Bentuk Kasih Sayang
Kepada para dosen, Nurul menyampaikan rasa terima kasih atas segala proses pembelajaran yang telah mereka lalui.
Ia mengakui, selama menjadi mahasiswa, tidak sedikit teguran, bentakan, koreksi, hingga revisi tugas akhir yang terkadang membuat mereka merasa lelah dan hampir putus asa.
Namun, setelah melewati semuanya, mereka memahami bahwa proses tersebut bukan sekadar tuntutan akademik. “Kami sadar, setiap bentakan dan revisi yang terkadang membuat kami ingin putus asa, ternyata itu adalah cara Bapak dan Ibu dosen menyayangi kami. Cara untuk membuat kami tumbuh menjadi manusia yang bertanggung jawab dan mampu melewati tantangan serta tekanan setiap saat,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian paling emosional dalam orasi Nurul. Tepuk tangan pun terdengar dari peserta yudisium dan tamu undangan.
Untuk Orang Tua, Terima Kasih atas Doa dan Pengorbanan
Rasa haru semakin terasa ketika Nurul menyampaikan pesan kepada orang tua.
Ia menyadari bahwa capaian yang diraih para sarjana hari ini tidak terlepas dari perjuangan panjang keluarga. Ada kebutuhan yang ditunda, keinginan yang dikorbankan, hingga berbagai bentuk pengorbanan yang mungkin tidak pernah diceritakan kepada anak-anak mereka.
“Untuk orang tua kami, terima kasih. Bapak dan Ibu telah berjuang untuk kami. Tidak sedikit kebutuhan yang ditunda, tidak sedikit keinginan yang harus dikorbankan demi kami agar bisa sukses dan meraih capaian hari ini. Terima kasih atas doa-doanya,” ungkap Nurul.
Kalimat itu kembali membuat suasana ruangan terdiam. Kebahagiaan atas keberhasilan memperoleh gelar sarjana seolah bertemu dengan kesadaran tentang panjangnya perjuangan orang tua.
Bagi para sarjana, gelar yang diterima bukan hanya hasil dari perjuangan mereka sendiri, tetapi juga buah dari doa, kesabaran, biaya, waktu, dan pengorbanan keluarga.
ITSBM Selayar Diharapkan Tetap Menjadi Rumah
Pada bagian akhir orasinya, Nurul menyampaikan harapan kepada pimpinan dan ITSBM Selayar.
Ia berharap hubungan antara kampus dan para alumninya tidak berhenti setelah mereka menerima gelar sarjana.
“Kepada pimpinan dan Institut, kami berharap setelah hari ini ITSBM Selayar akan tetap menjadi rumah kami. Semoga pimpinan selalu membuka pintu untuk kami,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penutup orasi yang sekaligus menggambarkan ikatan emosional antara para sarjana dengan kampus yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Orasi Nurul Al Faina mendapat apresiasi dan rasa bangga dari Rektor ITSBM Selayar, Prof. Dr. Drs. Akbar Silo, M.S., M.H., C.Egi.
Rektor menilai pesan yang disampaikan perwakilan sarjana tersebut menggambarkan perjalanan akademik sekaligus perjalanan emosional mahasiswa selama menempuh pendidikan di ITSBM Selayar.
Yudisium Tahap I Tahun 2026 pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni akademik. Ia menjadi ruang perjumpaan antara kebahagiaan dan kenangan, antara keberhasilan dan pengorbanan, serta antara perpisahan dan harapan.
