H. Saiful Arif: Jangan Habiskan Energi untuk Perdebatan, Fokus pada Berfastabiqul Khairat
![]() |
| H. Saiful Arif, SH sampaikan tausiyah dalam acara Syawalan dan silaturahmi di gedung Pusat dakwah Muhammadiyah Kepulauan Selayar (Photo: AR/Siarmu.id) |
Dalam tausiyahnya, Saiful Arif mengajak masyarakat untuk tidak menghabiskan energi pada perdebatan yang tidak produktif, khususnya terkait perbedaan pendapat dan istilah keagamaan.
“Jangan habiskan energi untuk berdebat soal perbedaan. Fokuslah pada fastabiqul khairat, yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan bahwa esensi Syawalan bukan sekadar tradisi berjabat tangan atau halal bihalal secara formal, melainkan keikhlasan untuk saling memaafkan dari hati. Menurutnya, pengampunan dari Allah tidak akan sempurna jika manusia belum saling memaafkan.
“Bisa saja tidak bertemu atau tidak berjabat tangan, tetapi jika hati sudah saling mengikhlaskan, itulah inti dari saling memaafkan,” jelasnya.
Pentingnya Mengendalikan Emosi dan Memperbanyak Amal
Saiful Arif juga mengutip pesan dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Ali Imran ayat 133–134, yang menekankan pentingnya bersegera menuju ampunan Allah dengan memperbanyak amal kebaikan.
Ia menyebutkan beberapa ciri orang bertakwa, diantaranya: gemar bersedekah dalam kondisi lapang maupun sempit, mampu menahan amarah dan mudah memaafkan kesalahan orang lain.
“Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. Ini yang harus kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Selain itu, ia juga menyinggung pentingnya belajar dari peristiwa Perang Uhud, di mana ketidakdisiplinan pasukan pemanah menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya ketaatan dan mengendalikan godaan duniawi.
Muhammadiyah dan Transformasi Spiritual-Sosial
Dalam kesempatan tersebut, Saiful Arif turut membahas tema penguatan peran Muhammadiyah dalam transformasi spiritual dan sosial.
Ia menjelaskan bahwa transformasi spiritual merupakan proses perubahan mendalam dalam diri seseorang yang mencakup peningkatan kesadaran beragama, perbaikan akhlak, serta hubungan yang lebih baik dengan sesama.
“Transformasi spiritual itu menyentuh kesadaran, nilai, dan perilaku. Dampaknya adalah meningkatnya empati, kepedulian, dan kualitas hidup,” ujarnya.
Sementara itu, transformasi sosial menurutnya adalah perubahan menyeluruh dalam kehidupan masyarakat, termasuk peningkatan kesejahteraan, pemberdayaan, serta terciptanya keadilan sosial.
Peran Nyata Muhammadiyah di Selayar
Saiful Arif juga menyoroti kontribusi nyata Muhammadiyah di Kepulauan Selayar, salah satunya melalui program khitanan massal yang rutin dilaksanakan setiap tahun bekerja sama dengan pemerintah daerah.
Dalam program tersebut, pemerintah menyediakan tenaga medis, obat-obatan, dan fasilitas, sementara Muhammadiyah bertanggung jawab mengkoordinasikan peserta.
Selain itu, kehadiran Institut Teknologi Sains dan Bisnis Muhammadiyah (ITSBM) Selayar juga memberikan dampak signifikan bagi daerah. Ia menyebutkan bahwa institusi tersebut mampu menahan perputaran uang hingga Rp7–8 miliar per tahun agar tetap berada di Selayar.
“Dengan adanya ITSBM, orang tua tidak perlu lagi mengirim anaknya keluar daerah. Biaya pendidikan bisa ditekan dan uang tetap berputar di Selayar,” jelasnya.
Melalui momentum Syawalan, Saiful Arif mengajak seluruh masyarakat untuk memperkuat nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, dan semangat berbuat kebaikan sebagai fondasi dalam membangun kehidupan sosial yang lebih harmonis dan sejahtera. (AR)
