Muhammadiyah Perkuat Akidah dan Rasionalitas, Ini Pesan di Pengajian Ramadan 1447 H

Daftar Isi

 

Pengajian Ramadan 1447 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Photo: dokumentasi PP Muhammadiyah)

Siarmu.id, YOGYAKARTA – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan pentingnya penguatan akidah sebagai fondasi Gerakan Islam Berkemajuan dalam Pengajian Ramadan 1447 H yang digelar selama tiga hari, Jumat–Ahad (20–22/2/2026), di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Penegasan tersebut disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Agung Danarto, saat menutup rangkaian pengajian bertajuk Akidah Islam Berkemajuan.

Berbasis Ahlussunnah wal Jama’ah

Agung menekankan, basis ilmu kalam Muhammadiyah berada dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang memiliki kedekatan dengan paham Asy’ariyah. Dalam pandangan ini, Allah diyakini memiliki sifat-sifat tanpa menyerupakan dengan makhluk (bila kaifa wala tasybih).

Artinya, sifat-sifat Allah diimani sebagaimana adanya, tanpa mempertanyakan bagaimana hakikatnya. Dalam aspek ketuhanan, Muhammadiyah disebut cenderung tekstual dan berhati-hati, tetap berada dalam koridor akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

SiarMU, YOGYAKARTA – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan pentingnya penguatan akidah sebagai fondasi Gerakan Islam Berkemajuan dalam Pengajian Ramadan 1447 H yang digelar selama tiga hari, Jumat–Ahad (20–22/2/2026), di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Penegasan tersebut disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Agung Danarto, saat menutup rangkaian pengajian bertajuk Akidah Islam Berkemajuan.

Berbasis Ahlussunnah wal Jama’ah

Agung menekankan, basis ilmu kalam Muhammadiyah berada dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang memiliki kedekatan dengan paham Asy’ariyah. Dalam pandangan ini, Allah diyakini memiliki sifat-sifat tanpa menyerupakan dengan makhluk (bila kaifa wala tasybih).

Artinya, sifat-sifat Allah diimani sebagaimana adanya, tanpa mempertanyakan bagaimana hakikatnya. Dalam aspek ketuhanan, Muhammadiyah disebut cenderung tekstual dan berhati-hati, tetap berada dalam koridor akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Ikhtiar Manusia dan Peran Akal

Terkait konsep usaha manusia (kasb), Muhammadiyah memandang manusia memiliki ikhtiar untuk berusaha secara maksimal. Namun, ketetapan akhir tetap berada di tangan Allah.

Manusia juga dianugerahi potensi akal untuk menelaah ciptaan-Nya, meski akal memiliki keterbatasan dalam memahami alam semesta dan menjangkau perkara gaib.

Corak pemikiran ini, kata Agung, menunjukkan Muhammadiyah tetap berpijak pada tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, sekaligus terbuka terhadap rasionalitas pemikir seperti Ibnu Rusyd.

“Dari basis Ahlussunnah wal Jama’ah tersebut, Muhammadiyah kemudian mengembangkan aspek akidah untuk kebutuhan bangunan keyakinan guna menopang gerakan Muhammadiyah,” ujarnya.

Tauhid Fungsional dan Teologi Al-Ma’un

Menurut Agung, sebagai persyarikatan gerakan Islam, Muhammadiyah membutuhkan bangunan keyakinan yang kokoh dalam mengemban misi dakwah. Karena itu, akidah di Muhammadiyah berkembang menjadi tauhid yang bersifat fungsional—tauhid yang menggerakkan amal.

Konsep ini melahirkan berbagai praksis teologis, salah satunya Teologi Al-Ma’un, serta ragam aktualisasi sosial yang menempatkan manusia sebagai fokus implementasi nilai tauhid.

Dari pemahaman akidah tersebut tumbuh etos dan karakter seperti integritas, kejujuran, keikhlasan, serta kerja keras sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Tauhid juga menumbuhkan kesadaran persaudaraan, baik sesama manusia maupun sesama makhluk.

Kritik Santun ke Pemerintah

Dalam konteks kehidupan berbangsa, Muhammadiyah disebut menunjukkan sikap konstruktif terhadap pemerintah. Kritik, apabila diperlukan, hendaknya disampaikan secara santun, dialogis, dan dengan cara yang baik.

Agung mengingatkan, kritik yang keras dan mempermalukan justru menjauhkan dari substansi dakwah. Ia mengutip firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 159 tentang pentingnya kelembutan dalam berdakwah dan memimpin.

Di akhir penyampaiannya, ia menyinggung corak tasawuf Muhammadiyah yang diwujudkan melalui kerja keras, hidup sederhana, serta kedermawanan dalam membangun amal usaha.

“Di atas semua itu, pondasi tauhid Muhammadiyah dibangun. Tauhid fungsional yang dikembangkan Muhammadiyah adalah tauhid yang menopang bangunan gerakan Persyarikatan untuk mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tutupnya.

Terkait konsep usaha manusia (kasb), Muhammadiyah memandang manusia memiliki ikhtiar untuk berusaha secara maksimal. Namun, ketetapan akhir tetap berada di tangan Allah.

Manusia juga dianugerahi potensi akal untuk menelaah ciptaan-Nya, meski akal memiliki keterbatasan dalam memahami alam semesta dan menjangkau perkara gaib.

Corak pemikiran ini, kata Agung, menunjukkan Muhammadiyah tetap berpijak pada tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, sekaligus terbuka terhadap rasionalitas pemikir seperti Ibnu Rusyd.

“Dari basis Ahlussunnah wal Jama’ah tersebut, Muhammadiyah kemudian mengembangkan aspek akidah untuk kebutuhan bangunan keyakinan guna menopang gerakan Muhammadiyah,” ujarnya.

Tauhid Fungsional dan Teologi Al-Ma’un

Menurut Agung, sebagai persyarikatan gerakan Islam, Muhammadiyah membutuhkan bangunan keyakinan yang kokoh dalam mengemban misi dakwah. Karena itu, akidah di Muhammadiyah berkembang menjadi tauhid yang bersifat fungsional—tauhid yang menggerakkan amal.

Konsep ini melahirkan berbagai praksis teologis, salah satunya Teologi Al-Ma’un, serta ragam aktualisasi sosial yang menempatkan manusia sebagai fokus implementasi nilai tauhid.

Dari pemahaman akidah tersebut tumbuh etos dan karakter seperti integritas, kejujuran, keikhlasan, serta kerja keras sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Tauhid juga menumbuhkan kesadaran persaudaraan, baik sesama manusia maupun sesama makhluk.

Kritik Santun ke Pemerintah

Dalam konteks kehidupan berbangsa, Muhammadiyah disebut menunjukkan sikap konstruktif terhadap pemerintah. Kritik, apabila diperlukan, hendaknya disampaikan secara santun, dialogis, dan dengan cara yang baik.

Agung mengingatkan, kritik yang keras dan mempermalukan justru menjauhkan dari substansi dakwah. Ia mengutip firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 159 tentang pentingnya kelembutan dalam berdakwah dan memimpin.

Di akhir penyampaiannya, ia menyinggung corak tasawuf Muhammadiyah yang diwujudkan melalui kerja keras, hidup sederhana, serta kedermawanan dalam membangun amal usaha.

“Di atas semua itu, pondasi tauhid Muhammadiyah dibangun. Tauhid fungsional yang dikembangkan Muhammadiyah adalah tauhid yang menopang bangunan gerakan Persyarikatan untuk mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tutupnya.


Sumber: Kabar Perserikatan PP Muhammadiyah